Showing posts with label silat. Show all posts
Showing posts with label silat. Show all posts

Friday, March 20, 2009

Silat dan Bisnis | Sebuah Pelajaran dari Sebuah Tulisan

Setiap cerita yang ditulis seseorang pastilah mempunyai pesan dan makna. Seorang penulis menginginkan tulisannya dapat memberi suatu manfaat bagi pembacanya. Kemarin ketika saya lagi asyik membaca pesan di layanan Social Networking (facebook) ada pesan sebuah tulisan yang menurut saya baik untuk dijadikan pelajaran bagi para Pesilat yang berkecimpung di dunia Bisnis. Dan tidak ada salahnya seorang pesilat juga seorang bisniman ( entrepreneur ), karena dengan jiwa entrepreneur seorang pesilat mampu menjadikan Pencak silat lebih maju.


Nah alangkah lebih baiknya seandainya anda juga dapat mengambil pelajaran dari tulisan seorang Netmarkiting yang terkenal.

ebagai seorang entrepeneur (atau pun netpreneur), membuat sebuah terobosan penting adanya. Ide yang kreatif dan inovatif merupakan salah satu kunci keberhasilan mereka. Selisih satu hari saja kadang bisa membawa banyak perbedaan. Namun bukan berarti menjadi yang pertama adalah sebuah jaminan sukses.

Tahukah Anda siapa penemu bola lampu? Saya yakin hampir semuanya akan menjawab Thomas Alva Edison, karena memang nama itu yang diajarkan oleh guru kita pada saat kita duduk di bangku sekolah. Ya kan? Tapi sebenarnya, Edison bukan lah orang yang pertama kali menemukan bola lampu pijar. Nah loh.

Adalah orang bernama Joseph Swan yang berasal dari dataran Newcastle, Inggris. Beberapa bulan sebelum Edison kegirangan karena penemuannya sukses, Swan bahkan sudah mendemokan sistem bola lampu pijar ciptaannya kepada pemerintah Inggris. Sayangnya, justru itulah letak kesalahannya.

Swan terlalu berambisi untuk menggantikan semua sistem bola lampu gas yang digunakan di jalan-jalan Inggris saat itu. Karena teknologi yang belum memadai, akhirnya usaha tersebut gagal dan produknya dianggap kurang mumpuni.

Berbeda dengan Swan, Edison menerapkan pepatah 'sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit', hehehe. Alih-alih pamer ke pemerintah US, ia sowan ke rumah J.P Morgan, milyuner tersohor yang duitnya segudang, dan mendemonstrasikan bola lampu pijar ciptaannya. Morgan terpesona dan ia pun memberikan dana pengembangan yang cukup lumayan kepada Edison.

Jadi begitulah, satu demi satu Edison mengubah sistem bola lampu yang ada saat itu dengan sistem pijar. Dan seperti sudah kita ketahui sekarang, ia pun terkenal dan dianggap sebagai penemu bola lampu pijar, meninggalkan Swan yang gigit jari di seberang lautan. Kasian yah?

Lain Thomas Alva Edison, lain juga Cipto.

Pada bulan Agustus 2008 lalu, kebetulan kampung tempat tinggal Cipto mengadakan berbagai acara untuk menyambut tujuhbelasan. Salah satunya adalah lomba balap kelereng maraton, 10km melintasi 5 kampung. Tahu lomba balap kelereng kan? Itu loh, lomba lari yang mana pesertanya harus membawa kelereng di atas sebuah sendok (ujung sendok digigit dengan gigi peserta).

Nah, Cipto yang setiap minggu selalu rajin berolahraga lari pagi keliling kampung pun tertarik untuk mengikuti lomba balap kelereng ini. Hadiahnya pas banget dengan yang lagi ia cari, LCD TV 42 inci. Full HD pula. Busyet, kaya banget ya kampungnya, hehehe.

Singkat cerita, pada hari H, Cipto menggunakan kostum olahraga favoritnya. Pagi harinya ia juga tidak lupa minum vitamin dan 4 kuning telur. Sekedar untuk menambah stamina agar tidak kecapekan di tengah jalan. Berhubung oleh panitia masing-masing peserta diminta membawa sendiri sendok dan kelerengnya, Cipto pun tidak lupa mengantongi sendok kesayangannya dan kelereng berwarna silver yang ia beli di depan SD Inpres sehari sebelumnya.

Tepat pukul 7, panitia meminta seluruh peserta untuk bersiap di garis Start. Cipto bergegas menuju ke tempat yang diminta. Sendok yang ia bawa juga langsung ia gigit di mulut. "Biar begitu mulai bisa langsung lari," pikirnya.

Semenit kemudian, panitia melambaikan bendera menandakan acara lomba balap kelereng maraton dimulai. Tanpa pikir panjang, Cipto segera melangkahkan kakinya. Cepat dan mengikuti irama 2 ketukan, hehehe. Yang mengherankan, ternyata begitu ia melangkah, penonton lomba langsung bersorak dan mengelu-elukan nama Cipto. Terkaget-kaget Cipto mencoba melirik ke kiri dan kanan. Dan memang benar, silih berganti mereka memanggil-manggil nama Cipto, bahkan terkadang melambaikan tangan ke arahnya.

"Wah, ini pasti karena mereka yakin aku bakal jadi pemenang di lomba ini", pikir Cipto ge-er.

Begitulah. Dengan penuh semangat, Cipto pun melalui kilometer demi kilometer lintasan lomba. Hingga akhirnya, BRETTT, ia pun berhasil menjadi yang pertama melewati pita yang terpasang di garis finish.

"Berhasil, berhasil, horeee!", teriak Cipto menirukan gaya Dora, di tengah suara penonton yang sejak ia mendekati garis finish memang semakin nyaring menyerukan namanya.

Tak lama, seorang panitia mendekati Cipto dan mengulurkan tangannya.

"Selamat mas Cipto, Anda berhasil menjadi nomer 1 yang masuk ke garis finish, jauh di depan peserta-peserta yang lain".

Hidung Cipto kembang kempis, membayangkan LCD TV yang akan ia bawa pulang.

"Namun maaf," si panitia melanjutkan, "Mas Cipto terpaksa kami diskualifikasi karena dari awal lomba di sendoknya tidak ada kelereng..."

Walah, ternyata gara-gara terlalu bersemangat, Cipto lupa meletakkan kelerengnya di sendok, hahaha.

Oke, oke, cerita yang kedua memang fiktif (kesamaan nama dan peristiwa adalah kebetulan belaka), namun ada hikmah yang bisa kita petik dari kedua cerita di atas.

Di cerita pertama, kita belajar bahwa menjadi yang pertama saja tidak cukup, harus ada follow-up yang strategis.Jika bicara masalah jualan, tentu yang dimaksud dengan follow-up di sini adalah dari sisi pemasarannya. Marketingnya. Jika jeli, banyak tho produk-produk inovatif di pasaran. Namun dari keseluruhan, hanya ada beberapa persen saja yang bertahan.

BCA bukan yang pertama menggunakan mesin ATM, namun sekarang, untuk masalah ATM mereka nomer satu di Indonesia.

Selain marketing, support juga perlu. Jangan setelah dagangan laku kemudian tinggal gelanggang colong playu. Kayak penjual DVD bajakan tuh, bilangnya udah ORI, ternyata masih kualitas bioskop. Minta dituker kasih 1001 alasan. Payah. *curhat*
Berikutnya, di cerita kedua, kita belajar bahwa untuk menjadi yang pertama, kita harus memiliki persiapan yang matang. Agar gelar 'yang pertama' yang nanti kita dapatkan tidak numpang lewat, namun akan terus bersemayam hingga akhir hayat *dramatis banget, heheh*

Sebagai contoh, di suatu daerah kebetulan belum ada yang menjual bakso. Ada penjual nasi bungkus (my favourite), nasi padang, nasi goreng, dan sebagainya, namun tidak ada satu pun yang menjual bakso. Apa berarti daerah ini berprospek untuk dijadikan wilayah berjualan bakso?

Ya Anda bisa saja menjadi yang pertama berjualan bakso di situ. Namun bukan tidak mungkin penduduk daerah tersebut memang tidak ada yang suka makan bakso...

Paham kan?

Jadi yang pertama juga bisa bikin orang sebel loh. Yang sering saya alami, pada saat lampu merah, pengendara-pengendara sepeda motor langsung ngusrug ke barisan depan, menutupi kendaraan roda empat yang lain. Pas giliran lampu berubah menjadi hijau, eh mereka malah gak sadar, dan cuman bengong di atas motornya. Kalo sudah demikian, buat apa mereka ada di depan?

Maaf, curhat lagi :)

Ngomong-ngomong soal 'pertama', alkisah, Komeng diterima bekerja di sebuah perusahaan elite sebagai manajer keuangan. Berhubung urusan dengan duit, pimpinan perusahaan memberitahukan dia nomor kode kombinasi brankas milik perusahaan. Sejak saat itu, setiap kali ada bagian yang membutuhkan dana perusahaan, maka Komeng yang akan mengambilkannya dari brankas.

Seminggu berlalu, sang pimpinan baru menyadari kebiasaan si Komeng. Setiap kali akan mengambil uang di brankas, ia selalu menunduk ke bawah dan mulutnya tampak berkomat-kamit. Ia pun kemudian memanggil Komeng ke ruangannya.

"Meng, saya baru tahu kalau ternyata kamu orang yang religius. Saya lihat setiap kali kamu mau mengambil uang dari brankas, kamu selalu berdoa terlebih dahulu. Pasti kamu mendoakan agar uang tersebut digunakan sebaik-baiknya demi kepentingan perusahaan, kan?"

"Bukan pak," jawab Komeng, "Saya baru pertama kali ini diserahin brankas. Dan berhubung saya orangnya pelupa, jadi kode kombinasi brankasnya saya tulis di lantai depan brankas".

Terima Kasih
Read More - Silat dan Bisnis | Sebuah Pelajaran dari Sebuah Tulisan

Monday, March 16, 2009

Laporan Seleksi POPDA Pencak Silat 2009 | Kec. Gondangrejo

POPDA 2009 sudah dekat, seleksi demi seleksi dilakukan oleh semua cabang olahraga terutama cabang Pencak Silat. Di Kabupaten Karanganyar untuk cabanga Pencak Silat adalah salah satu cabang andalan. Karena dengan Pencak Silat nama Kabupaten Karanganyar sedikit demi sedikit terangkat. Oleh karena itu tadi (16/3) cabang Pencak Silat melakukan seleksi tingkat kecamatan, yang akan saya laporkan disini di tingkat kecamatan dulu ya :) terutama di kecamatan Gondangrejo, soalnya di masing-masing kecamatan belum ngadain


Bertempat di SMPN 1 Gondangrejo semua cabang olah raga untuk seleksi tingkat SMP di pertandingkan. Tapi kita lebih fokus ke Pencak Silat Aja ya.. soalnya cabang yang lain saya gak liat jadi..gak bisa komentar :D . Oke skip... Ada yang unik untuk seleksi kali ini, di seleksi POPDA 2009 ini di Kecamatan Gondangrejo cabang Pencak Silat mengalami keterlantaran.. mau tahu kronologisnya...

Awalnya begini bermula dari pemberitahuan dari tingkat Kabupaten dulu, surat yang didapat di masing-masing cabang perguruan sudang mengalami keterlambatan. Bayangkan mau mengadakan seleksi baru Ngomong hari Kamis, padahal seleksinya hari Senin.. dengan berat hati akhirnya masing-masing cabang bisa menerima walaupun tanpa persiapan yang matang. Itupun di undangan kita di undang datang pukul 08.00 sudah dimulai.

Dengan mantap akhirnya kita datang tepat waktu sampai di SMPN 1 Gondangrejo. Dan betapa kagetnya sampai di tempat tidak ada yang menyambut kami.. rasa penasaran muncul, apa benar disini ya ?? kok gak ada orangnya.. !! dengan rasa percaya diri dan yakin kami pun menuggu dan ternyata benar disini tempatnya untuk seleksi POPDA 2009 Pencak Silat.

Sekitar 1.5 Jam kami pun menunggu, rasa malas akhirnya manuntun kami untuk menanyakan kejelasan acara ini. Dan betapa kagetnya ternyata guru dan karyawan di tempat itu tidak mengetahui acara Seleksi POPDA 2009 Cabang Pencak Silat...!!! itu pun masih ditambah dengan adanya berita mengenai perubahan peraturan dari IPSI Jawa Tengah.

Peraturan dulu menyebutkan untuk kelas A yang dipertandingkan tingkat SMP antara 39-42 Kg, tetapi ternyata sekarang dirubah menjadi 28-30 Kg. Dan saat itu suasana bertambah tidak jelas dan serba runyam. Masing-masing sekolahan membawa atlet dengan peraturan lama, padahal peraturan lama sudah tidak dipakai. Akhirnya dengan kesepakatan seleksi POPDA 2009 Cabang Pencak Silat terpaksa di tunda.

Nantikan Laporan Selanjutnya... :)
Read More - Laporan Seleksi POPDA Pencak Silat 2009 | Kec. Gondangrejo

Wednesday, March 11, 2009

Pencak Silat Antara Seni, Prestasi dan Materi

Belajar silat tentunya belajar menjadi orang yang kuat, kuat ilmu, kuat fisik, kuat iman, dan kuat jiwa. Belajar silat bukan hanya belajar berkelahi tetapi bagaimana menyelesaikan tanpa berkelahi.

Ungkapan seperti ini yang sering saya dengar ketika masih kecil dalam belajar Pencak Silat terutama belajar tapak suci. Coba kita renungkan kembali arti belajar bela diri yang sekarang sudah hampir hilang pengertian bela diri Pencak Silat, karena bertambah majunya budaya atau malah kemlorotan budaya. Sebenarnya dahulu orang belajar silat hanya untuk menjaga diri dan sebagia seni. Maka tidak heran ketika orang Amerika datang ke pulau jawa dan melihat kesenian pencak silat yang disaksikan bukanlah suatu bela diri seperti bela diri dari negara-negara lain, melainkan suatu tarian mematikan bagi siapa saja yang melawan.

Tetapi arti dari suatu seni bela diri pencak silat sudah hampir hilang. Seni bela diri sekarang lebih ditujukan kepada prestasi dan materi, bukan lagi seni. Sekarang Pencak Silat digunakan untuk mencari materi dalam hal perlombaan, dari tingkat daerah bahkan sudah tingkat Internasional. Tetapi yang saya kawatirkan adalah ketika orang belajar Pencak Silat terutama Tapak Suci karena gara-gara materi dan prestasi.

Akankah masa indah ketika belajar seni bela diri tapak suci yang penuh dengan kaidah, pelajaran dan petuah akan hilang begitu saja karena sebuah materi dan prestasi.....
Read More - Pencak Silat Antara Seni, Prestasi dan Materi

Sunday, July 20, 2008

Boyolali Unggul di Karanganyar

Karanganyar, 20 Juli 2008 Pertandingan Persahabatan Tapak Suci Putera Muhammadiyah antar PIMDA (Pimpinan Daerah) Karanganyar, Sragen, Sukoharjo serta Boyolali dapat dijalani dengan sukses. Pertandingan yang diikuti sebanyak 26 Pesilat putera-puteri kategori Tanding dari 4 Kabupaten se-Karisidenan Surakarta ini, sebagai ajang tolak ukur kekuatan Pesilat Tapak Suci di masing-masing Kabupaten, dan juga sebagai persiapan untuk event Pencak Silat yang akan datang.
Dalam pertandingan ini Kabupaten Boyolali yang turun dengan Atlet Andalannya yang rata-rata pesilat PPLP Solo mampu menjadi Juara Umum, yang mana mereka mengirim 4 Pesilat Putera dan 3 Pesilat Puteri. Dari kesemua Pesilat yang turun di kelas A,B,C,D, dan E. Pesilat Putera asal Kab. Boyolali hanya tersingkir di kelas D yang behadapan dengan pesilat dari Kab. Karanganyar. Lain halnya dengan Pesilat Puteri Kab. Boyolali yang mampu memenangakan semua pertandingan dikelas A, B, dan C. bahkan dari ketiga Kelas yang dipertandingkan, pesilat puteri asal boyolali mampu memenangkan dengan WMP antara lain di kelas A yang berhadapan dengan Kab. Sragen dan di kelas C yang berhadapan dengan Kab. Karanganyar.
Mengingat Kabupaten Karanganyar sebagai tuan rumah dalam pertandingan ini, mereka mentargetkan Pesilat-pesilatnya mampu menampilkan permainan yang bagus dan bahkan berharap dapat memperoleh kemenangan yang sempurna. Akan tetapi kesemua pesilat yang di turunkan hanya 2 (dua) pesilat yang mampu memenangkan pertandingan ketika itu, yaitu Gesang Tri Wigati yang berhadapan dengan pesilat asal Kab. Boyolali yang turun di kelas E putera, dan Bagus yang berhadapan dengan pesilat asal Kab. Sragen.
Salah satu pesilat andalan Kab. Karanganyar yaitu Giyatno yang kemarin telah berhasil lolos seleksi Pra-Porda tingkat Kabupaten tidak mampu memberikan permainan yang bagus bahkan terkesan monoton dari babak pertama dan kedua. Giyatno yang turun di kelas A putera berhadapan dengan pesilat asal Sukoharjo kalah dengan nilai tipis. Pesilat asal Kab. Sukoharjo tersebut walaupun dari segi pengalaman bertanding jauh dibanding dengan pesilat karanganyar mampu mematahkan serangan dan mampu memberikan perlawanan dengan tendangan-tendangan yang terarah, lain halnya dengan Giyatno pesilat asal Kab. Karanganyar ini hanya mampu menutup setiap serangan dan terkesan bertahan.
Meskipun hasil yang didapat Kab. Karanganyar dalam pertandingan persahabatan ini jauh dari memuaskan, tetapi mereka tetap optimis pesilat-pesilat mereka yang lolos ke seleksi pra-Popda tingkat Karisidenan besok akan mampu mengambil pelajaran dari pertandingan persahabatan ini. Dan akan mampu menampilkan permainan yang bagus, tentunya di imbangi dengan latihan yang baik.
Read More - Boyolali Unggul di Karanganyar

Friday, July 18, 2008

Flash Back : Silat Jateng Protes di PON VII

SAMARINDA - Dari cabor pencak silat PON XVII Kaltim 2008 yang memasuki babak semifinal di GOR Sempaja Samarinda, Jateng berhasil menempatkan dua pesilatnya ke babak final.
Sedangkan tiga pesilat Jateng lain yang juga berlaga di semifinal terhenti hanya mampu meraih perunggu setelah kalah di semifinal. Dua dari tiga pesilat Jateng yang tersisih di semifinal sangat berbau kontroversi, sebab di dalam laga tersebut keduanya mampu mengumpulkan lebih banyak poin.

Pesilat pertama yang sukses melangkah ke final adalah Diyan Kristianto. Dipartai final yang akan dimainkan, Rabu (16/7/2008. Pesilat asal Kebumen itu akan ditantang Martono Kusuma dari Sumsel.

Pesilat Jateng lain yang berhasil menerobos final yakni Anissa Pangestika dari kelas C wanita. Dipartai final, Anissa akan berhadapan dengan Hariyani Yahya dari Sulsel.
Sukses Diyan dan Anissa ini tak diikuti tiga rekannya Jayanti (kelas A wanita) yang kemarin harus mengakui keunggulan Pengki Simbar dari Sulut.

Sementara Alip Almunanti (kelas B wanita) dikalahkan Tuti Trisnayanti dari Bali. Andalan Jateng di kelas D pria Sapto Purnomo juga kalah dari Andi Irsan (Sulsel). Kekalahan pesilat Jateng di semifinal, terutama Jayanti dan Sapto berbau kontroversial. Sapto dan Jayanti bahkan sudah merasa unggul dari lawannya ketika laga berakhir.

Tapi oleh juri Sapto dan Jayanti dinyatakan kalah angka 2-3 dari lawan-lawannya. Manajer Silat Jateng H Darmadi mengaku tak habis pikir dengan kekalahan tersebut. Tim silat Jateng resmi mengajukan protes bahkan mengadukan kejadian tersebut ke Dewan Hakim PB PON.

"Saya menduga di sini ada oknum yang bermain tidak fair. Kami resmi mengajukan protes dengan menyertakan hasil rekaman pertandingan. Kejadian ini sangat merusak mental atlet kita. Semua penonton di sini pasti bisa menilai, kalau Jayanti dan Sapto menang karena lebih banyak memasukkan pukulan bahkan bantingan," jelas Darmadi.

"Kalau keduanya masuk final, dua-duanya akan berhadapan dengan pesilat Kaltim. Mungkin, Kaltim tidak ingin berhadapan dengan Jateng di final karena takut kalah. Karena itu, mereka memainkan partai semifinal," kata Darmadi.

Tiga pesilat Jateng masih akan bertarung memperebutkan tiket ke partai puncak. Mereka adalah Rony Syaifullah (kelas G pria), Noviana (kelas E wanita) dan Rahmat Fitroh (kelas E pria).
(Agus Anggoro/Sindo/zwr)okezone
Read More - Flash Back : Silat Jateng Protes di PON VII

Tuesday, July 15, 2008

PON VII : Sumut Bertekat Kalahkan Lampung

Medan ( Berita ) : Pesilat Sumut dikirimkan mengikuti PON XVII/2008 di Kaltim yang akan digelar 5-18 Juli bertekad mengalahkan pesilat Lampung.
Ketua Umum Pengprov IPSI Sumut, Asgul Idihan Dalimunthe di Medan, Jumat [04/07], mengatakan, pesilat dari daerah tersebut dikenal cukup tanggguh dan sulit untuk ditumbangkan. Untuk itu, katanya, Sumut sudah mempersiapkan pesilat andalan dari daerahnya agar bisa mengalahkan Lampung.

Pesilat tersebut, yakni Nurzaini dan Febriani (putri) peraih medali perak dari partai ganda putra di PON XVI di Sumsel, 2004, katanya. Selanjutnya ia menjelaskan, selain Lampung, pesilat Jateng juga perlu diperhitungkan.Pada PON XVI di Sumsel, 2004, atlet daerah tersebut berhasil menyabet sejumlah medali emas dari kategori tanding, ganda putra maupun kelompok.

Pada PON di Kaltim, Sumut mengirimkan empat pesilat terbaiknya, yakni Jumidar Oktina, Nurzaiini, Febriani, Apriansyah dan dua orang pelatih, Suprapto dan Jumono. ( ant )
Read More - PON VII : Sumut Bertekat Kalahkan Lampung

Monday, July 14, 2008

PON VII : Jatim Bertekat Ulang Sukses Pencak Silat

Kapanlagi.com - Tim pencak silat Jawa Timur bertekad mengulang sukses yang diraih pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI tahun 2004, dengan merebut juara umum pada cabang olahraga tersebut di PON XVII/2008 di Kalimantan Timur.
Pelatih Tim Pencak Silat Jatim, Karyono kepada wartawan di Surabaya, Senin, mengatakan, pada PON empat tahun lalu, Jatim berhasil merebut juara umum dengan mendulang lima medali emas, lima perak dan lima perunggu.

“Sukses PON 2004 menjadi spirit bagi anak-anak untuk kembali berprestasi pada PON Kaltim, dan kami optimistis itu bisa dicapai”, katanya usai pelepasan tim pencak silat Jatim.

Karyono mengungkapkan, pada PON 2008 ini, tim pencak silat Jatim yang berkekuatan 12 atlet (sembilan putra dan tiga putri), ditargetkan mampu merebut minimal empat medali emas dari 22 keping yang diperebutkan. Atlet Jatim akan turun pada delapan nomor putra dan dua nomor putri.

Sebelumnya, target medali emas hanya tiga keping, tapi KONI Jatim menambah satu lagi, karena jumlah nomor yang dipertandingkan cukup banyak. Apalagi pada kejurnas prakualifikasi PON 2007 lalu, pesilat Jatim mampu meraih tujuh medali emas.

“Saat PON 2004 lalu, target kami juga hanya tiga emas tapi anak-anak mampu melebihi target dengan menyumbang lima emas. Kali ini, kami berharap anak-anak bisa melakukan hal yang sama”, katanya.

Dari 12 pesilat yang diterjunkan, tiga di antaranya merupakan atlet peraih emas pada PON 2004, yakni Hamdani, Yusuf Effendi dan Hariyono dari nomor tunggal ganda regu (TGR).

Dibanding empat tahun silam, lanjut Karyono, peta persaingan cabor pencak silat pada PON 2008 ini jauh lebih ketat. Kekuatan pesilat daerah lain, seperti DKI Jakarta, Jabar, Banten, Bali, Sulsel, Sulut, dan Sumsel juga cukup merata.

Sementara itu, Ketua Umum Pengprov Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Jatim, Dr Soekarwo pada acara pelepasan itu, mengingatkan atlet dan ofisial Jatim untuk mewaspadai faktor nonteknis yang bisa menghambat peluang mendapatkan medali emas.

“Kalau soal teknis, saya kira persiapan anak-anak tidak perlu diragukan. Justru yang dikuatirkan masalah nonteknis”, katanya menambahkan.

Menurut Soekarwo, IPSI Jatim sudah berupaya melakukan pendekatan dengan PB IPSI dan PB PON, agar pertandingan cabor tidak terukur ini bisa berjalan “fair play” dan sportif.

“Masalah undian atlet, wasit dan lainnya, menjadi perhatian Jatim. Kami berharap, semuanya berjalan sportif dan tidak ada daerah yang dirugikan”, kata pria yang karib dipanggil Pakde ini.

Pada kesempatan itu, Soekarwo juga menjanjikan bonus khusus bagi pesilat Jatim yang mampu merebut medali emas, perak maupun perunggu. Namun, mantan Sekdaprov Jatim ini tidak bersedia menyebutkan nilainya.

“Atlet tidak usah mikir itu, konsentrasi saja pada pertandingan dan rebut medali sebanyak-banyaknya. Soal bonus, pasti saya disiapkan”, katanya menegaskan. (kpl/rit)
Read More - PON VII : Jatim Bertekat Ulang Sukses Pencak Silat

Silat PON diwarnai Protes

SAMARINDA - Babak penyisihan cabang Pencak Silat di GOR Komplek Stadion Madya Sempaja, Sabtu (12/7) berlangsung menegangkan. Pada masing masing kelas terpilh untuk berlaga di babak penyisihan, antara lain di kelas A putra masuk babak semifinal, Martono Kusuma (Sumsel) setelah menang 5-0 dari Dien Akba (Bengkulu). Selanjutnya akan melawan Maszuar ZM (NAD) dan Rudi Susanto (Jatim) akan melawan Diyan Kristianto (Jateng) setelah menang dari Marsuki (Sulsel).
Sementara di kelas A putri, pendekar Kaltim Santi Maryana melawan Ria Puspita Sari (Sumsel) dan Jayanti (Jateng) akan melawan Pengki Simbar

Para pendekar masing-masing menampilkan jurus-jurus terbaik, membuat para penonton merasa bangga teryata silat warisan nenek moyang bisa mengharumkan daerah maupun bangsa.
Sangat disayangkan, masih ada yang tidak menjunjung tinggi rasa sportivitas. Semula para pendekar tampil apik. Namun terjadi sedikit keributan dalam penyisihan di kelas D putra antara tuan rumah M Shodiq melawan DKI Jakarta Johanes Edison Buru. Atlet DKI mengalami cedera, karena terkena pukulan tepat di dada hingga tidak sadarkan diri. Keputusan ke 5 dewan juri atas kemenangan tuan rumah membuat tim pendukung DKI kecewa. Pertandingan yang akan dilaksanakan hari ini, masih babak penyisihan diikuti 50 atlet dari kelas E-J. (wawan/smd/gie).
Read More - Silat PON diwarnai Protes

Saturday, July 12, 2008

Orang Melayu atau Islam belajar silat. Warga Cina belajar wushu.

Pencak silat bukanlah cabang olahraga populer di Singapura. Sebab, warga Negeri Kota yang mayoritas adalah etnis keturunan Cina menganggap olahraga itu tidak cocok bagi mereka.
Masih ada persepsi di sebagian masyarakat bahwa pencak silat adalah seni bela diri mistis, yang kental dengan nuansa Islam dan hanya untuk orang-orang Melayu, kata Sheik Alau’ddin Yacoob Marican, Direktur Eksekutif Persekutuan Silat Singapura (Persisi), ketika ditemui Tempo di sekretariat Persisi di Bedok North Street, Singapura, beberapa waktu lalu.

Meski tak terlalu diminati, sejak 2004 pemerintah Singapura memasukkan silat sebagai core identified sport atau cabang olahraga utama, yang disejajarkan dengan atletik, bulu tangkis, boling, sepak bola, layar, renang, polo air, dan tenis meja.

Artinya, silat kini telah menjadi satu dari tujuh cabang olahraga yang diprioritaskan di Singapura dalam pembinaan dan pendanaan. Usaha tersebut nyatanya membuahkan hasil.

Tengok saja dalam kejuaraan dunia pencak silat di Malaysia pada November lalu. Kontingen Singapura berhasil memboyong tiga medali emas, bandingkan dengan Indonesia yang hanya memperoleh dua emas.

Di arena SEA Games, Singapura memang hanya kebagian satu emas. Tapi Sheik Alau’ddin punya alasan. Menurut dia, tidak semua pesilat andalan bisa diturunkan. Dari 13 pesilat yang tampil semuanya adalah wajah baru.

Adanya stigma bahwa silat hanya bagi orang Melayu membuat warga Singapura etnis non-Melayu tak tertarik mempelajarinya. Tercatat dari sekitar 15 ribu warga yang belajar pencak silat, hanya sekitar 200 orang yang berasal dari etnis non-Melayu, seperti India, Arab, dan Cina.

Ini yang terjadi di Singapura. Orang Melayu atau Islam belajar silat. Warga Cina belajar wushu dan seterusnya, kata Sheik Alau’ddin. Bagaimana bisa berkembang kalau yang tertarik belajar hanya etnis Melayu yang jumlahnya tidak banyak.

Inilah wajah Singapura. Sebuah negara multietnis dengan keturunan Cina menjadi mayoritas, 75.2 persen dari populasi, Melayu 13,6 persen, India 8,8 persen, sedangkan sisanya 2,4 persen berasal dari Eropa dan etnis lain.

Negara itu beberapa kali mengalami konflik etnis, ras, dan agama. Setidaknya ada dua konflik etnis besar yang memakan korban jiwa, yakni kerusuhan etnis Maria Hertogh pada 1948 antara penduduk Melayu/Islam dengan warga Eropa/Kristen. Kerusuhan kedua terbesar adalah konflik Cina-Melayu, yang terjadi pada 1964.

Puluhan tahun berlalu, segregasi etnis nyatanya masih tetap ada. Bahasa resmi mereka adalah Melayu dan Inggris. Lihat saja lagu kebangsaan Majulah Singapura, yang tetap dinyanyikan dalam bahasa Melayu.

Tapi sehari-hari warga menggunakan bahasa asal etnis mereka masing-masing, termasuk Mandarin dan Tamil. Untung saja ada bahasa Inggris yang diadaptasi secara lokal, yang disebut Singapore English (Singlish), yang paling luas digunakan.

Masih adanya segregasi etnis dan persepsi bahwa silat berorientasi mistik hanya untuk muslim dan etnis Melayu, menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Persisi dalam memasyarakatkan pencak silat.

Dibentuk pada 1976, Persisi menjalin kerja sama erat dengan Persekutuan Silat Antarbangsa (Persilat) membentuk silat sebagai murni olahraga beladiri yang kompetitif.

Kami telah mengoreksi semua aspek yang berkaitan dengan agama dan sistem kepercayaan tertentu sehingga membentuk silat modern yang siap menjadi olahraga global, yang bisa dipelajari semua orang, tutur Sheik Alau’ddin.

Aslinya, semua beladiri melibatkan pemahaman dari sistem kepercayaan tertentu. Beladiri Jepang dan Cina, misalnya, terkait erat dengan kepercayaan Zen, Tao, dan agama Buddha. Karena asalnya dari Indonesia, yang mayoritas adalah muslim, maka sistem kepercayaan itu juga terpantul dalam pencak silat.

Tapi sebenarnya pencak silat adalah sistem beladiri yang universal dan tidak hanya dikhususkan pada mereka yang beragama Islam. Di Amerika Serikat dan Eropa, praktisi silat berdoa sesuai dengan agama mereka masing-masing.

Salah satu strategi, Persisi telah mencetak material brosur dan poster tidak dalam bahasa Melayu, tapi dalam bahasa Inggris sejak 10 tahun lalu. Dari 103 community center di Singapura, hampir 95 persen membuka pelatihan silat.

Tidak cuma itu, saat ini 70 persen sekolah di Singapura juga mengajarkan pencak silat sebagai ektrakurikuler tetap lewat program Silat Goes to School. Silat juga dimasukkan sebagai kurikulum sekolah olahraga Singapura.

Sebagai sarana pembinaan dan pencarian bibit unggul dari seluruh aktivitas itu, setiap tahunnya Persisi rutin menggelar kompetisi silat berbagai usia dan kalangan. Ada program pembinaan dan kompetisi Singa Silat dan Singa Cub untuk bocah 3-11 tahun.

Sejak dini mereka telah dilatih Singapore Silat Centre of Excellence untuk kategori seni dan tanding. Mereka bahkan dikirim untuk beruji coba ke Malaysia dan Indonesia dua kali setahun untuk memberikan pengalaman.

Selain itu, masih ada kejuaraan nasional untuk berbagai kategori usia mulai dari prajunior (12-14 tahun), junior (14-17 tahun), dan senior (17 tahun ke atas). Untuk tingkat nasional ada kejuaraan Singapura Terbuka yang diikuti oleh negara lain.

Untuk level perguruan tinggi ada kejuaraan Inter-varsity yang diikuti berbagai perguruan tinggi, seperti National University of Singapore, Nanyang Technological University, Singapore Polytechnic, dan Republic Polytechnic.

Dengan seluruh aktivitas tersebut, diharapkan akan lebih banyak warga Singapura non-Melayu yang belajar pencak silat. Seorang pesilat wanita keturunan Cina yang ditemui Tempo mengaku stigma terhadap silat tetap ada di kalangan warga non-Melayu.

Stigma tersebut membuat pesilat non-Melayu tidak mendapatkan dukungan yang besar dari keluarga, seperti halnya bila mereka memilih menekuni olahraga renang atau wushu.

Salah satu cara untuk memikat anak-anak muda adalah pemberian beasiswa pendidikan bagi yang berhasil merebut medali dalam kejuaraan internasional. Hal ini juga yang membuat Persisi meluncurkan program Silat Goes Global.

Hal ini dilakukan agar silat mendapat dukungan luas untuk bisa dipertandingkan di Asian Games atau Olimpiade. Dengan demikian anak-anak muda lebih termotivasi karena memiliki kesempatan mengharumkan nama bangsa di ajang multi-event besar.
Oleh : AMAL IHSAN (SINGAPURA)

www.silatindonesia.com
Read More - Orang Melayu atau Islam belajar silat. Warga Cina belajar wushu.